Jakarta, 22 September 2026 – Harga cabai rawit kembali mengalami kenaikan dan di sejumlah pantauan telah mencapai Rp95.800 per kilogram. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi lonjakan harga komoditas tersebut. Musim panas membuat produksi dan pasokan cabai dari sejumlah sentra mengalami tekanan. Pemerintah telah berkomunikasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan produksi maupun distribusi. Budi menyampaikan penjelasan tersebut di sela peluncuran awal platform digital InaExport di Jakarta, Selasa.
Menurut Budi, kondisi berbeda terjadi pada beberapa jenis cabai lainnya. Harga cabai merah besar dan sejumlah varietas lain disebut masih relatif normal, bahkan rata-rata berada di bawah batas harga acuan yang dipantau pemerintah. Karena itu, tekanan harga saat ini lebih menonjol pada cabai rawit. Pemerintah terus memperhatikan pergerakan harga untuk mengetahui daerah yang mengalami lonjakan paling tinggi. Perbedaan kondisi pasokan antardaerah membuat harga cabai di tingkat konsumen juga tidak seragam.
Data pemantauan Kementerian Perdagangan menunjukkan rata-rata nasional cabai rawit berada di kisaran Rp70.000 per kilogram. Namun, harga di sejumlah wilayah dapat berada jauh di atas rata-rata tersebut karena kondisi pasokan dan distribusi yang berbeda. Kenaikan telah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir dan menjadi salah satu komoditas pangan yang mengalami volatilitas cukup tinggi. Pada pertengahan September, harga cabai rawit merah dalam sejumlah pemantauan bahkan sempat mendekati Rp100.000 per kilogram. Pergerakan tersebut memperlihatkan tekanan terhadap pasokan belum sepenuhnya mereda.
Cuaca panas yang berlangsung cukup panjang menjadi salah satu persoalan bagi petani cabai. Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo sebelumnya menjelaskan kenaikan harga mulai terasa di tingkat petani sejak pertengahan Agustus. Cuaca sangat panas menyebabkan ketersediaan air di sejumlah wilayah produksi berkurang sehingga tanaman yang sudah memasuki masa produksi menjadi tumpuan utama pasokan. Kondisi tersebut membuat kemampuan petani menjaga kontinuitas produksi ikut terpengaruh. Fenomena El Nino juga disebut memperkuat tekanan terhadap ketersediaan air di sentra pertanian.
Meski harga meningkat, pemerintah menyatakan produksi cabai rawit secara nasional masih tersedia. Kementerian Pertanian sebelumnya memperkirakan produksi cabai rawit nasional selama September 2026 mencapai sekitar 119 ribu ton. Sejumlah daerah di Jawa Timur masih memiliki area produksi yang cukup besar, termasuk Banyuwangi dan Sampang. Sentra lain seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang juga menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan di Pulau Jawa. Namun, perbedaan waktu panen dan kondisi tanaman membuat pasokan tidak selalu tersebar merata ke seluruh wilayah.
Ketidakseimbangan pasokan tersebut membuat pemerintah menyiapkan distribusi dari wilayah yang mengalami surplus menuju daerah dengan harga tinggi. Badan Pangan Nasional bersama Kementerian Pertanian mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan untuk membantu mobilisasi cabai antardaerah. Pemerintah akan mengidentifikasi daerah yang mempunyai stok cukup dan harga relatif rendah sebelum mengirimkannya ke wilayah yang mengalami lonjakan. Petani binaan di sejumlah sentra produksi juga telah disiapkan untuk mendukung langkah stabilisasi. Mekanisme tersebut sebelumnya telah digunakan untuk membantu mengurangi disparitas harga pangan antarwilayah.
Perbedaan harga cabai rawit antardaerah memang cukup lebar. Pada pertengahan September, rata-rata nasional sempat tercatat sekitar Rp81.052 per kilogram, sementara di Sulawesi Utara harganya mencapai lebih dari Rp152.000 per kilogram. Pada periode yang sama, harga di Nusa Tenggara Timur berada di kisaran Rp56.600 per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan harga tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi nasional, tetapi juga distribusi pasokan menuju daerah konsumen. Biaya logistik dan jarak dari sentra produksi turut memengaruhi harga yang akhirnya dibayar masyarakat.
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang pergerakan harganya relatif sensitif terhadap perubahan cuaca dan produksi. Kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, sementara organisme pengganggu seperti trips dan kutu kebul juga dapat menekan hasil panen. Perubahan pilihan tanaman oleh petani turut memengaruhi luas produksi pada periode tertentu. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat menyebabkan pasokan turun dalam waktu relatif cepat. Ketika permintaan tetap tinggi, harga di tingkat konsumen kemudian terdorong naik.
Pemerintah kini mengandalkan penguatan distribusi sembari menunggu produksi dari sejumlah sentra memasuki masa panen. Program distribusi diharapkan dapat menekan lonjakan harga terutama di daerah yang mengalami kekurangan pasokan. Pada triwulan pertama 2026, pemerintah telah menggunakan skema serupa untuk memobilisasi cabai rawit dari daerah produksi menuju wilayah konsumen. Salah satunya dilakukan melalui pengiriman cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan, menuju Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta. Pendekatan tersebut kembali disiapkan apabila disparitas harga antardaerah terus melebar.
Budi memastikan pemerintah akan terus memantau harga cabai rawit di tengah kondisi musim panas. Untuk saat ini, kenaikan dinilai terutama berkaitan dengan faktor cuaca yang memengaruhi produksi dan ketersediaan pasokan. Sementara harga beberapa jenis cabai lainnya masih berada dalam kondisi relatif normal. Pemerintah berharap penguatan distribusi dari daerah surplus serta masuknya periode panen dapat memperbaiki pasokan dan menekan harga secara bertahap. Pergerakan harga dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi indikator apakah langkah stabilisasi tersebut mampu mengembalikan harga cabai rawit ke tingkat yang lebih terkendali.




