Jakarta, 1 September 2026 – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memanfaatkan ajang Indonesia Tourism and Trade Investment Expo (ITTIE) 2026 di Batam untuk memperkenalkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komoditas perkebunan. Kegiatan yang berlangsung di Mega Mall Batam Center pada 27-30 Agustus 2026 tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas akses pasar sekaligus membangun jejaring dengan calon mitra bisnis dan investor. BPDP membawa sejumlah produk UMKM yang memanfaatkan komoditas kelapa sawit, kelapa, dan kakao sebagai bahan utama maupun pendukung. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan melalui pengembangan produk olahan. Langkah tersebut juga diharapkan dapat memperkuat daya saing UMKM agar mampu berkembang dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah mengatakan keikutsertaan dalam ITTIE 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk UMKM perkebunan kepada pasar yang lebih luas. Menurutnya, sektor perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah. Pengembangan produk tersebut dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat. BPDP ingin mendorong agar pelaku UMKM mampu memanfaatkan potensi komoditas perkebunan melalui inovasi dan peningkatan kualitas produk. Dengan demikian, keberadaan UMKM dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perkebunan dari hulu hingga hilir.
Beragam produk ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari aneka olahan kelapa dan kakao hingga produk fesyen dan kerajinan. Sejumlah produk fesyen dan kain batik memanfaatkan bahan yang berkaitan dengan komoditas perkebunan, termasuk lilin berbahan minyak kelapa sawit. Selain itu, terdapat produk home decor dan fesyen yang memanfaatkan bahan dari kelapa. Kehadiran berbagai jenis produk tersebut menunjukkan luasnya peluang diversifikasi komoditas perkebunan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Pameran juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat secara langsung bagaimana komoditas perkebunan dapat dikembangkan menjadi produk konsumsi maupun kebutuhan sehari-hari.
ITTIE 2026 menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha dengan konsumen, mitra bisnis, dan calon investor. Pertemuan tersebut dinilai penting bagi UMKM karena pengembangan usaha tidak hanya membutuhkan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga akses terhadap jaringan pemasaran. Melalui pameran, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk sekaligus memperoleh gambaran mengenai kebutuhan dan selera pasar. Interaksi langsung dengan calon mitra juga dapat membuka peluang kerja sama yang lebih berkelanjutan. BPDP berharap kegiatan semacam ini dapat membantu produk UMKM perkebunan memperoleh pasar baru, baik di tingkat nasional maupun internasional.
BPDP juga mendorong pelaku UMKM perkebunan untuk meningkatkan kualitas usaha agar dapat naik kelas. Peningkatan kualitas mencakup pengembangan produk, kemampuan pemasaran, penguatan kemasan, serta pemahaman terhadap standar yang dibutuhkan untuk memasuki pasar yang lebih luas. Pelaku UMKM juga didorong untuk memanfaatkan berbagai program pengembangan kapasitas yang tersedia. Salah satunya melalui program Mari Belajar Go Ekspor atau MBGe yang diarahkan untuk meningkatkan kesiapan pelaku usaha memasuki pasar ekspor. Penguatan kemampuan tersebut diharapkan membuat UMKM tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga memiliki daya saing ketika berhadapan dengan konsumen luar negeri.
Pengembangan UMKM berbasis perkebunan juga memiliki kaitan erat dengan upaya hilirisasi komoditas. Hilirisasi memungkinkan hasil perkebunan tidak langsung dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah terlebih dahulu menjadi produk dengan nilai tambah. Proses tersebut dapat menciptakan aktivitas ekonomi tambahan di berbagai sektor, termasuk produksi, pengemasan, distribusi, pemasaran, dan perdagangan. Semakin banyak produk turunan yang dikembangkan, semakin besar pula peluang terbentuknya rantai nilai di dalam negeri. Karena itu, penguatan UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong manfaat ekonomi komoditas perkebunan agar dapat dirasakan lebih luas.
Keikutsertaan BPDP dalam ITTIE 2026 juga mendapat perhatian dari penyelenggara. Booth BPDP terpilih sebagai Booth Terfavorit dan meraih Juara 2 Booth Terbaik dalam ajang tersebut. Penghargaan tersebut menjadi tambahan apresiasi terhadap upaya memperkenalkan produk UMKM berbasis perkebunan kepada masyarakat. Namun, nilai utama kegiatan tetap berada pada terbukanya peluang interaksi antara pelaku UMKM dengan calon konsumen dan mitra usaha. Pameran diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan promosi, tetapi dapat menghasilkan hubungan bisnis yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Penguatan UMKM perkebunan juga diharapkan mampu memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Ketika produk lokal memiliki pasar yang lebih luas, peluang peningkatan produksi dan penciptaan lapangan kerja dapat ikut berkembang. Pelaku usaha juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk melalui tuntutan pasar yang semakin kompetitif. Dalam jangka panjang, pengembangan tersebut dapat memperkuat rantai nilai komoditas perkebunan di dalam negeri. BPDP melihat UMKM sebagai salah satu elemen yang dapat membantu memastikan manfaat dari sektor perkebunan tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha skala besar.
Melalui partisipasi dalam ITTIE 2026, BPDP menegaskan komitmennya untuk terus memperluas promosi dan akses pasar bagi UMKM berbasis komoditas perkebunan. Produk sawit, kelapa, dan kakao memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk inovatif dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Upaya mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen, mitra bisnis, dan investor menjadi bagian dari strategi memperkuat ekosistem tersebut. Dukungan terhadap peningkatan kapasitas dan kemampuan ekspor juga akan menjadi faktor penting agar produk UMKM mampu bersaing secara berkelanjutan. Dengan inovasi, peningkatan kualitas, dan jaringan pasar yang semakin luas, UMKM perkebunan diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat hilirisasi komoditas Indonesia.




