Beijing, 3 Oktober 2026 – Tren membeli pakaian murah khusus untuk dikenakan selama liburan tengah menjadi sorotan di China. Fenomena yang dikenal sebagai disposable clothing atau pakaian sekali pakai itu berkembang di kalangan wisatawan muda yang ingin tampil berbeda dalam foto perjalanan. Pakaian tersebut umumnya hanya dikenakan satu atau dua kali sebelum dibuang atau dijual kembali setelah liburan selesai. Tren ini menawarkan kepraktisan bagi wisatawan, tetapi sekaligus memunculkan kekhawatiran mengenai bertambahnya limbah tekstil.
Fenomena tersebut mulai ramai diperbincangkan di media sosial China sejak musim panas 2026. Tagar mengenai pakaian sekali pakai dilaporkan telah memperoleh sekitar 6,8 juta tayangan dan memicu 135 ribu diskusi pada salah satu platform. Sejumlah pengguna membagikan pengalaman membeli beberapa pakaian sekaligus untuk digunakan selama perjalanan. Seorang wisatawan bahkan mengaku membeli lima set pakaian untuk perjalanan tujuh hari dengan total pengeluaran kurang dari 200 yuan.
Jenis pakaian yang dipilih biasanya memiliki desain mencolok dan dianggap menarik ketika digunakan untuk berfoto. Pilihannya mulai dari rok panjang berwarna cerah, jubah, jaket luar ruangan hingga pakaian bergaya tradisional yang disesuaikan dengan destinasi. Sejumlah toko bahkan menawarkan pakaian berdasarkan tema perjalanan, seperti gaun untuk pantai, hanfu untuk festival, atau pakaian bergaya khusus untuk perjalanan ke Xinjiang. Dengan demikian, pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan selama perjalanan, tetapi juga menjadi properti untuk menghasilkan konten media sosial.
Harga murah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong popularitas tren tersebut. Produk yang banyak diminati dijual sekitar 10 hingga 50 yuan per potong. Salah satu pemilik toko pakaian perempuan di China mengaku dapat menjual sekitar 15 ribu potong setiap bulan, dengan pembeli terutama berasal dari kelompok usia 18 hingga 30 tahun. Karena harganya relatif rendah, sebagian wisatawan menganggap membeli pakaian baru untuk setiap destinasi lebih praktis dibandingkan membawa banyak pakaian dari rumah.
Persoalan muncul ketika perjalanan selesai dan pakaian tidak lagi dibutuhkan. Sebagian konsumen membuangnya, sedangkan lainnya memilih menjual kembali melalui platform barang bekas. Kebiasaan membuang pakaian setelah hanya digunakan satu atau dua kali mendapat kritik karena setiap produk tetap membutuhkan bahan baku, proses produksi, transportasi, dan distribusi sebelum sampai ke konsumen. Semakin pendek masa pemakaian sebuah pakaian, semakin besar pula potensi limbah yang dihasilkan dibandingkan manfaat penggunaannya.
Persoalan tersebut menjadi lebih serius karena dunia telah menghadapi limbah tekstil dalam jumlah besar. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun secara global. Produksi tekstil juga meningkat dua kali lipat antara 2000 dan 2015, sementara rata-rata masa penggunaan pakaian menurun sekitar 36 persen. Hanya sebagian kecil serat tekstil yang berasal dari bahan daur ulang, sehingga tren pakaian berumur sangat pendek dikhawatirkan semakin menambah tekanan terhadap lingkungan.
Tren pakaian sekali pakai akhirnya memperlihatkan perubahan hubungan antara fashion, pariwisata, dan media sosial. Bagi sebagian wisatawan, pakaian murah memberikan kesempatan mendapatkan penampilan berbeda di setiap destinasi tanpa mengeluarkan biaya besar. Namun, kritik muncul ketika pakaian yang sebenarnya masih dapat digunakan justru berakhir menjadi sampah hanya demi kebutuhan foto dan konten. Fenomena di China tersebut kini membuka perdebatan lebih luas mengenai kebiasaan konsumsi serta pentingnya memperpanjang masa penggunaan pakaian di tengah meningkatnya persoalan limbah tekstil dunia.




