Jakarta, 10 September 2026 – KAI Commuter menambah kembali 13 perjalanan Commuter Line Bogor mulai Kamis, 10 September 2026, setelah melakukan evaluasi terhadap kepadatan pengguna dalam beberapa hari terakhir. Penambahan perjalanan dilakukan menyusul penyesuaian operasional yang sebelumnya mengurangi 17 perjalanan di lintas Bogor sejak Senin, 7 September. Pengurangan tersebut berkaitan dengan proses perawatan sarana KRL yang membuat operator harus menata kembali penggunaan rangkaian. Namun, tingginya kebutuhan masyarakat pada salah satu lintas tersibuk di Jabodetabek membuat pola operasi kembali dievaluasi. KAI Commuter kemudian melakukan rekayasa peredaran sarana agar kapasitas angkut lintas Bogor dapat ditingkatkan.
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menjelaskan penambahan tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap pola perjalanan yang diterapkan sejak awal pekan. Kepadatan pengguna setelah penyesuaian 17 perjalanan menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan. Untuk mengatasinya, operator mengatur kembali pola peredaran rangkaian Commuter Line di sejumlah lintas pelayanan. Langkah tersebut memungkinkan sarana yang tersedia dimanfaatkan secara lebih optimal tanpa menunggu seluruh proses perawatan selesai. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan kapasitas pada masing-masing lintas.
Dengan tambahan 13 perjalanan, jumlah perjalanan Commuter Line Jabodetabek kini meningkat menjadi 1.061 perjalanan per hari. Sebelumnya, pada periode 7 hingga 9 September, jumlah perjalanan yang dioperasikan sebanyak 1.048 perjalanan per hari. Artinya, sebagian besar perjalanan lintas Bogor yang sempat dikurangi kini berhasil dikembalikan. Meski demikian, jumlah tersebut belum sepenuhnya mengembalikan 17 perjalanan yang terdampak penyesuaian sebelumnya. KAI Commuter akan terus mengevaluasi kondisi operasional selama proses perawatan sarana berlangsung.
Penambahan kapasitas lintas Bogor dilakukan dengan memanfaatkan rangkaian yang sebelumnya digunakan pada layanan Commuter Line Tanjung Priok. Rangkaian tersebut kemudian dialihkan sementara untuk mendukung perjalanan di lintas Bogor. Strategi ini dipilih karena kebutuhan kapasitas angkut di jalur Bogor relatif besar, terutama pada periode sibuk pagi dan sore hari. Pergerakan pengguna dari Bogor, Depok dan sejumlah kawasan penyangga menuju Jakarta menjadikan lintas tersebut mempunyai tingkat kepadatan tinggi. Setiap pengurangan perjalanan karena itu dapat memberikan dampak langsung terhadap distribusi penumpang di stasiun maupun di dalam kereta.
Pengalihan rangkaian dari Tanjung Priok tidak berarti pelayanan pada lintas tersebut dihentikan. KAI Commuter menyiapkan rangkaian Commuter Line Basoetta untuk sementara melayani perjalanan di lintas Tanjung Priok. Pengguna tetap dapat menggunakan layanan dengan tarif dan jadwal seperti ketika perjalanan dilayani menggunakan rangkaian KRL reguler. Perubahan utama berada pada jenis sarana yang digunakan selama masa penyesuaian. Skema tersebut memungkinkan perusahaan menambah kapasitas lintas Bogor tanpa menghilangkan pelayanan kepada pengguna di Tanjung Priok.
Namun, penggunaan rangkaian Commuter Line Basoetta untuk mendukung lintas Tanjung Priok menimbulkan konsekuensi terhadap perjalanan kereta bandara. Mulai 10 September 2026, jumlah perjalanan Commuter Line Basoetta dikurangi dari sebelumnya 70 menjadi 52 perjalanan per hari. Pengurangan 18 perjalanan tersebut dilakukan karena sebagian sarana harus digunakan untuk menopang pola operasi sementara. KAI Commuter meminta pengguna kereta bandara memperhatikan kembali jadwal keberangkatan sebelum melakukan perjalanan. Penyesuaian ini terutama perlu diperhatikan penumpang yang telah merencanakan perjalanan menuju atau dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Bagi pengguna Commuter Line Basoetta yang telah mempunyai tiket pada jadwal terdampak, KAI Commuter memberikan sejumlah pilihan. Penumpang dapat menggunakan perjalanan sebelum atau setelah jadwal keberangkatan yang tercantum pada tiket sesuai ketentuan yang berlaku. Pengguna juga dapat mengajukan pengembalian dana tiket secara penuh melalui loket di stasiun pelayanan Commuter Line Basoetta. Kebijakan tersebut diterapkan agar penumpang tidak mengalami kerugian akibat perubahan operasional. Pengguna tetap dianjurkan menyediakan waktu perjalanan lebih panjang untuk mengantisipasi perubahan jadwal.
Informasi mengenai jadwal terbaru juga menjadi penting karena penyesuaian melibatkan beberapa lintas sekaligus. Pengguna dapat memeriksa jadwal perjalanan sebelum menuju stasiun agar dapat memilih waktu keberangkatan yang paling sesuai. KAI Commuter mengimbau masyarakat memanfaatkan kanal informasi resmi dan aplikasi perjalanan untuk melihat perubahan jadwal secara berkala. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko penumpukan akibat pengguna datang bersamaan pada satu waktu. Perencanaan perjalanan dinilai semakin penting selama pola operasi sementara masih diberlakukan.
Penyesuaian yang dilakukan sejak 7 September pada awalnya berkaitan dengan kebutuhan perawatan intensif terhadap sarana KRL. Perawatan merupakan bagian penting dalam menjaga keandalan armada yang beroperasi setiap hari dengan frekuensi tinggi. Ketika sejumlah rangkaian harus menjalani proses tersebut, ketersediaan sarana untuk operasional otomatis menjadi lebih terbatas. Operator kemudian perlu menyeimbangkan kebutuhan perawatan dengan tuntutan mempertahankan kapasitas angkut. Situasi itulah yang menyebabkan perubahan jumlah perjalanan dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil evaluasi lapangan.
Lintas Bogor menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu jalur dengan jumlah pengguna terbesar dalam jaringan Commuter Line Jabodetabek. Stasiun seperti Bogor, Depok, Citayam, Bojong Gede dan sejumlah stasiun lainnya melayani pergerakan komuter dalam jumlah besar setiap hari. Kepadatan dapat meningkat dengan cepat apabila jarak antarkereta menjadi lebih panjang akibat berkurangnya jumlah perjalanan. Dampaknya tidak hanya terlihat di dalam rangkaian, tetapi juga pada antrean penumpang di peron. Penambahan 13 perjalanan diharapkan dapat membantu mendistribusikan pengguna secara lebih merata.
KAI Commuter tetap meminta pengguna memperhatikan kondisi kepadatan, khususnya pada jam berangkat dan pulang kerja. Penambahan perjalanan memang meningkatkan kapasitas, tetapi permintaan perjalanan di lintas Bogor tetap tinggi. Penumpang yang mempunyai fleksibilitas waktu dapat mempertimbangkan perjalanan di luar jam paling sibuk. Pengguna juga diminta mengikuti arahan petugas ketika berada di stasiun maupun di dalam kereta. Ketertiban dalam proses naik dan turun penumpang turut memengaruhi kelancaran perjalanan keseluruhan.
Perusahaan menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna atas ketidaknyamanan yang muncul selama penyesuaian sementara. KAI Commuter menegaskan perubahan pola operasi dilakukan sebagai bagian dari upaya mempertahankan keselamatan, keandalan sarana dan kapasitas pelayanan. Perawatan armada tetap harus dilaksanakan meskipun kebutuhan perjalanan masyarakat juga terus tinggi. Karena itu, pengaturan rangkaian dari lintas lain menjadi solusi sementara untuk menjaga keseimbangan kedua kebutuhan tersebut. Evaluasi akan terus dilakukan berdasarkan kondisi operasional dan kepadatan pengguna.
Penambahan 13 perjalanan lintas Bogor mulai 10 September menjadi respons langsung terhadap kepadatan yang terjadi setelah pengurangan perjalanan sejak awal pekan. Dengan total 1.061 perjalanan Commuter Line Jabodetabek per hari, kapasitas angkut diharapkan kembali lebih memadai dibandingkan periode 7 hingga 9 September. Konsekuensinya, layanan Tanjung Priok sementara menggunakan rangkaian kereta bandara dan perjalanan Commuter Line Basoetta berkurang menjadi 52 perjalanan. Pengguna pada seluruh lintas terdampak perlu mencermati jadwal terbaru sebelum berangkat. KAI Commuter akan terus menyesuaikan pola operasi sesuai perkembangan perawatan sarana dan kebutuhan perjalanan masyarakat.




