Jakarta, 25 Mei 2026 – Rancangan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz mulai terungkap ke publik setelah sejumlah media internasional membocorkan isi pembahasan kedua negara. Dalam proposal yang sedang dinegosiasikan, Iran disebut bersedia membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi dan sejumlah konsesi dari Washington. Selat Hormuz sendiri menjadi titik vital perdagangan energi dunia karena sekitar seperempat distribusi minyak global melewati jalur tersebut setiap tahunnya.
Salah satu poin utama dalam rancangan kesepakatan adalah komitmen Iran untuk memusnahkan atau menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi melalui mekanisme yang masih dinegosiasikan. Sebagai gantinya, Amerika Serikat dikabarkan mempertimbangkan “akomodasi signifikan”, termasuk pelonggaran sanksi dan izin sementara bagi Iran untuk kembali menjual minyaknya secara bebas di pasar internasional. Selain itu, blokade terhadap pelabuhan Iran disebut akan dilonggarkan secara bertahap apabila Teheran mematuhi isi kesepakatan.
Dalam draf yang beredar, pembukaan Selat Hormuz disebut akan dilakukan secara bertahap selama masa gencatan senjata 60 hari. Iran juga disebut diminta membersihkan ranjau laut yang sebelumnya dipasang di kawasan selat agar kapal komersial dapat kembali melintas tanpa hambatan. Sebagai bagian dari kesepakatan awal, aset Iran senilai sekitar 12 miliar dolar AS yang dibekukan di luar negeri juga dikabarkan akan mulai dicairkan secara bertahap.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan belum ada kesepakatan final yang ditandatangani. Teheran menyebut pembicaraan masih berlangsung dan sejumlah isu sensitif belum mencapai titik temu, termasuk soal pengawasan program nuklir dan jaminan pencabutan sanksi jangka panjang. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebelumnya memberi sinyal optimistis bahwa kesepakatan “hampir rampung”, meski mereka mengakui proses negosiasi masih berjalan dinamis.
Pengamat geopolitik menilai kesepakatan ini berpotensi menjadi titik balik penting bagi stabilitas Timur Tengah dan pasar energi global. Sejak konflik memanas awal tahun ini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat anjlok drastis dan memicu lonjakan harga minyak dunia. Karena itu, pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dinilai menjadi kepentingan strategis tidak hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga negara-negara importir energi di Asia dan Eropa. Namun banyak pihak masih menunggu apakah kedua negara benar-benar mampu menyelesaikan negosiasi panjang yang selama ini dipenuhi ketegangan dan saling curiga.






