Jakarta, 3 November 2026 – Aksi demonstrasi menolak konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, menjadi perhatian publik setelah muncul laporan mengenai kericuhan di sekitar kawasan Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa malam. Massa yang menolak penyelenggaraan konser disebut melakukan sejumlah tindakan yang mengganggu ketertiban, termasuk dugaan pembakaran kerucut lalu lintas atau traffic cone dan pelemparan petasan ke arah aparat keamanan. Namun, rincian mengenai kedua tindakan tersebut masih memerlukan konfirmasi resmi dari kepolisian. Aksi penolakan berlangsung bertepatan dengan konser bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour yang dijadwalkan dimulai pukul 20.00 WIB. Sejumlah kelompok masyarakat sebelumnya telah menyampaikan keberatan terhadap pertunjukan tersebut karena menyoroti rekam jejak Bocelli yang mereka kaitkan dengan dukungan terhadap Israel. Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, kepolisian menyiagakan ribuan personel gabungan di sekitar lokasi kegiatan. Situasi ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara kelompok penolak konser dan pihak penyelenggara yang tetap melaksanakan agenda pertunjukan sesuai rencana. iNews.ID+1
Aksi penolakan sebenarnya telah berlangsung sejak siang hari ketika massa dari Global Peace Convoy Indonesia menggelar demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Para peserta datang dari berbagai kelompok usia dengan membawa bendera Palestina, poster, serta atribut yang menunjukkan solidaritas terhadap masyarakat Gaza. Pembina Global Peace Convoy Indonesia, Bachtiar Nasir, menyampaikan bahwa demonstrasi dilakukan karena pihaknya menilai Andrea Bocelli belum menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Kelompok tersebut juga mempertanyakan pesan kemanusiaan yang disampaikan dalam rangkaian konser internasional tersebut. Selain Global Peace Convoy Indonesia, sejumlah organisasi masyarakat sebelumnya telah menyatakan keberatan dan menyerukan pembatalan pertunjukan di Jakarta. Penolakan itu menjadi kelanjutan dari polemik serupa yang muncul menjelang konser Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026. Meskipun memiliki pandangan berbeda mengenai penyelenggaraan konser, para peserta aksi tetap memiliki hak menyampaikan pendapat sepanjang dilakukan sesuai ketentuan hukum dan tidak membahayakan keselamatan masyarakat. iNews.ID+1
Kepolisian telah mengantisipasi potensi gangguan keamanan dengan mengerahkan 2.411 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Akhmadi, membenarkan adanya rencana demonstrasi yang membutuhkan pengamanan khusus di kawasan JIExpo Kemayoran. Personel ditempatkan untuk menjaga ketertiban sekaligus memastikan aktivitas masyarakat di sekitar lokasi pertunjukan tetap berlangsung. Aparat juga mempersiapkan langkah pengaturan lalu lintas karena konsentrasi massa berpotensi menimbulkan kepadatan kendaraan. Pengunjung konser dan masyarakat yang melintas di kawasan Kemayoran diimbau memperhatikan kondisi jalan serta mempertimbangkan jalur alternatif apabila terjadi penutupan atau pengalihan arus. Kepolisian sebelumnya meminta peserta demonstrasi menyampaikan aspirasi secara tertib dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan umum. Kesiapan pengamanan tersebut menjadi penting mengingat konser internasional menghadirkan banyak penonton, pekerja acara, dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan pameran. JawaPos.com
Polemik konser Andrea Bocelli bermula dari keberatan sejumlah organisasi masyarakat terhadap rekam jejak penyanyi asal Italia tersebut. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya meminta pemerintah mempertimbangkan pembatalan konser karena menilai terdapat kegiatan Bocelli pada masa lalu yang berkaitan dengan dukungan terhadap Israel. Salah satu kegiatan yang disoroti adalah penampilan Bocelli dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces di Los Angeles pada 2010. Penampilannya di Tel Aviv pada 2022 juga menjadi bagian dari alasan penolakan yang disampaikan sejumlah kelompok masyarakat. MUI mengaitkan keberatan tersebut dengan sikap Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina serta penolakan terhadap tindakan yang merugikan masyarakat sipil. Meski demikian, penilaian organisasi masyarakat mengenai sikap politik seorang musisi perlu dibedakan dari pernyataan langsung yang telah dikonfirmasi oleh pihak bersangkutan. Perbedaan pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai batas kebebasan berekspresi, solidaritas kemanusiaan, dan penyelenggaraan kegiatan hiburan internasional di Indonesia. tirto.id+1
Di tengah gelombang penolakan, promotor Shoemaker Live tetap menyatakan komitmennya untuk menyelenggarakan konser Andrea Bocelli sesuai jadwal yang telah diumumkan. Pendiri Shoemaker Live, Prajna Murdaya, sebelumnya menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah pihak penyelenggara melakukan komunikasi dengan pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan. Promotor menilai pertunjukan tersebut memiliki nilai penting bagi pengembangan pariwisata, kebudayaan, serta industri kreatif Indonesia. Penyelenggara juga menyampaikan bahwa Bocelli ingin membawa pesan perdamaian dan kemanusiaan melalui penampilannya, khususnya bagi masyarakat yang terdampak konflik bersenjata. Sebelum tampil di Jakarta, Bocelli telah menggelar konser di kawasan Candi Borobudur pada Sabtu, 31 Oktober 2026, yang juga diwarnai demonstrasi penolakan. Pada kesempatan tersebut, kepolisian Jawa Tengah menyatakan bahwa kegiatan konser dan penyampaian aspirasi dapat berlangsung dengan pengamanan yang terkendali. Pengalaman di Borobudur menjadi salah satu gambaran mengenai pentingnya koordinasi antara aparat keamanan, promotor, pemerintah, dan masyarakat ketika sebuah pertunjukan menghadapi penolakan publik. tirto.id+1
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya juga memberikan tanggapan terhadap kontroversi konser Andrea Bocelli yang berlangsung di wilayah ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa penyelenggara telah memperoleh sejumlah perizinan dari instansi yang memiliki kewenangan, termasuk kepolisian dan kementerian terkait. Sementara itu, Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, M. Taufik Zoelkifli, meminta pemerintah daerah meninjau kembali penyelenggaraan konser dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang mendukung Palestina. Ia juga mendorong pemerintah membuka informasi mengenai kemungkinan dukungan fasilitas atau kerja sama yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bahwa persoalan konser tidak hanya menyangkut penyelenggaraan pertunjukan musik, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan publik dan respons terhadap isu internasional. Dalam konteks keamanan, tindakan seperti pembakaran fasilitas lalu lintas maupun pelemparan petasan, apabila terbukti terjadi, merupakan persoalan berbeda yang perlu ditangani berdasarkan fakta dan ketentuan hukum. Hingga informasi yang dapat diverifikasi tersedia, belum dapat dipastikan jumlah pelaku, korban, maupun kerusakan yang berkaitan dengan dugaan kericuhan di sekitar lokasi konser. ANTARA News+1
Perkembangan demonstrasi penolakan konser Andrea Bocelli di JIExpo Kemayoran menjadi perhatian karena mempertemukan kepentingan penyampaian aspirasi masyarakat dengan kebutuhan menjaga keamanan kegiatan publik. Aparat kepolisian memiliki tanggung jawab memastikan demonstrasi dapat berlangsung tanpa mengancam keselamatan peserta aksi, pengunjung konser, maupun masyarakat sekitar. Di sisi lain, penyelenggara perlu terus berkoordinasi dengan petugas keamanan untuk mengantisipasi perubahan situasi di lapangan. Dugaan pembakaran traffic cone dan pelemparan petasan ke arah aparat membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut agar kronologi kejadian dapat dijelaskan secara akurat. Kepolisian juga perlu memastikan apakah terdapat kerusakan fasilitas, korban luka, atau tindakan hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam kericuhan tersebut. Penanganan yang transparan diperlukan untuk mencegah berkembangnya informasi yang belum terverifikasi di tengah tingginya perhatian publik terhadap konser tersebut. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga ruang demokrasi agar penyampaian pendapat tetap terlindungi tanpa mengabaikan keselamatan dan ketertiban umum. Dengan demikian, perkembangan situasi keamanan di Kemayoran serta keterangan resmi aparat menjadi hal penting yang perlu diperhatikan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai kejadian pada Selasa malam.




